Selasa, 18 Oktober 2011

300 AYAM DI LOMBOK BARAT MATI MENDADAK

Lombok Barat, 18/10 (ANTARA) - Sebanyak 300 ekor ayam milik warga di Desa Beleka, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, mati secara mendadak diduga karena virus flu burung.
         Kepala Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Gerung Syaiful Bahri, di Gerung, Selasa, mengatakan, ratusan ekor ayam yang mati mendadak itu tersebar di tiga dusun yang ada di Kelurahan Beleka, yakni Dusun Beleka sekitar 200 ekor, Mendagi sekitar 100 ekor dan Biletepung puluhan ekor.
         "Dari hasil pemeriksaan sampel darah di laboratorium, ayam yang mati mendadak di Dusun Beleka dan Mendagi, positif terjangkiti virus 'avian influenza", sedangkan di Dusun Biletepung negatif," ujarnya.
         Meskipun sudah diperiksa di laboratorium Puskeswan Gerung, kata dia, sampel darah ayam yang mati mendadak itu dikirim lagi ke Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional VI Denpasar untuk membuktikan kebenaran apakah ada virus flu burung di Lombok Barat.
         Pengiriman sampel darah ayam yang mati mendadak itu dimaksudkan untuk menentukan  jenis tipe virus. Diketahui, virus yang menular ke unggas berjenis tipe a sementara ke manusia tipe b dan c.
         "Hasil penelitian sementara ayam-ayam itu  baru positif 'avian influenza'. Jadi hanya menular sesama unggas. Tetapi kami perlu memastikan lagi apakah jenis virusnya menular dari unggas ke manusia, makanya sampel darah ayam dikirim BPPV Denpasar," ujarnya.
         Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan H Bachtiar, mengatakan, kejadian matinya ayam secara mendadak di Desa Beleka bukan hal yang mengkhawatirkan  karena belum tentu tergolong flu burung.
         "Kasus flu burung baru terjadi jika ada kematian unggas diikuti suspect pada manusia. Tetapi ini belum sampai ke sana. Kami rasa kejadian itu terjadi akibat 'non clustered disiase' (ND)," ujarnya.
         Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan penyemprotan kandang unggas di sejumlah desa dengan desinfektan serta pembagian bahan-bahan yang bersifat anti virus kepada para peternak unggas.
         Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya kematian unggas massal secara mendadak terutama pada saat peralihan musim dari musim kemarau ke musim hujan.
         "Kami juga terus melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan setempat untuk mengantisipatisi adanya korban manusia jika memang ada flu burung," ujarnya. (*)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan